Cerita Horor kena Santet ( KISAH NYATA )

shares

Sebuah kisah nyata dari seorang ibu dua anak yang mengalami bagaimana rasanya terkena santet! kalian bisa membaca cerpen horor santet ini dengan lengkap dan sangat panjang dan mendebarkan.

Kisah nyata.
Part 1
Cerita ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu yakni sekitar tahun 2019


Waktu itu aku sedang hamil anak kedua. Seperti umumnya ibu hamil aku pun merasa berat di tiga bulan pertama.


Menginjak bulan ke empat kondisi ku mulai membaik. Mual muntah ku perlahan berkurang. Aku juga sudah bisa menyantap makanan dengan normal.

Pagi itu aku pergi ke puskesmas untuk cek kandungan. Di temani Dhita anak pertama ku.
Sambil menunggu nomor antrian ku di panggil, aku iseng-iseng bermain dengan bocah berusia enam tahun itu. Tiba tiba aku melihat seorang perempuan duduk di samping ku.


" Bu Ratih , sakit apa Bu?"
Bu Ratih adalah tetangga ku. Rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal ku. Dia juga sering membersihkan kebun milik anaknya yang terletak persis di depan rumah ku. Bu Ratih adalah asli warga sini, sedang aku dan suami adalah pendatang, perantau dari pulau Jawa.

" Ini mbak, tadi sore habis bersih bersih kebun. Nggak sengaja tangan ku kena sabit. Mbak sendiri sakit apa?"
" Aku nggak sakit Bu, cuma mau periksa kandungan saja"
Tidak terlalu lama kami mengobrol. Sebab Bu Ratih pulang lebih awal.
Sekitar tiga hari kemudian aku muntah muntah terus. Aku merasa aneh, sebab kemarin kemarin aku sudah jarang muntah.

Merasa tak nyaman, akhirnya aku bawa periksa ke rumah sakit. Di sana aku di USG dan di beri resep untuk di tebus.
Benar saja, setelah minum entah obat atau vitamin dari resep dokter aku tak lagi muntah.

Beberapa hari kemudian aku merasa badan terasa tidak enak. Awalnya aku biarin. Aku pikir ini wajar bagi ibu hamil. Makin hari aku merasa semakin kurang sehat. Suhu badanku pun mulai tinggi. ku ajak suami untuk periksa kerumah sakit.

Setelah di lakukan USG dan di beri obat kami pun pulang.
Sudah beberapa hari ku minum obat dari dokter, tapi tak ada perubahan. Aku makin lemas dan badan ku semakin panas. Aku juga sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Semua pekerjaan di rumahpun di ambil alih suami.

Aku dan suami kembali periksa ke rumah sakit.
Lagi lagi aku di USG. Dan dokter pun hanya memberi ku resep untuk di tebus kembali. Selama beberapa kali periksa aku tidak pernah benar-benar tahu sakit apa. Sebab dokter tak mendiagnosa apapun.


Aku kembali kerumah dengan resep yang sudah di tebus oleh suami. Tapi entahlah.. demam ku tak kunjung turun. Malah semakin panas rasanya. Aku semakin lemas.
" Kita cek darah saja ya, mas! Aku takut kena Demam berdarah"
Aku memang cukup trauma dengan DBD. Sebab sebulan yang lalu Dhita sempat di rawat setelah di nyatakan positif Demam berdarah.

Dengan kondisi yang sudah sangat lemas dan lemah kami bertiga pergi ke rumah sakit.
Cukup lama kami menuggu antrian. Wajar saja, sekarang memang musim hujan. Di musim seperti ini biasanya orang orang lebih mudah terkena penyakit,entah DBD atau sekedar flu batuk pilek.
Rasanya aku benar benar sudah tidak kuat. Sesekali ku sandarkan kepala di pundak suami.
Begitu lama namaku di panggil.


Ku putar penglihatan ku ke segala arah , sekedar mengusir rasa jenuh ku. Terlihat dokter yang menangani aku sedang keluar ruangan. Segera ku hampiri dokter tersebut.

" Maaf dok , obat yang kemarin kok seperti nggak ada efeknya. Panas ku belum turun, malah makin bertambah. Terakhir aku cek suhu badan empat puluh derajat. Gimana kalau aku cek darah saja?"
Dokter dan perawat memang sudah tidak asing lagi dengan ku. Sebab dalam beberapa Minggu ini aku sudah bolak balik kesini.

" Wah, dirawat inap saja, Bu."
Akupun menyetujui saran dari dokter.
Setelah di lakukan pengambilan darah ternyata aku positif kena tipes. Sesekali badan ku bisa demam tinggi kemudian tiba-tiba bisa dingin sampai menggigil.

Beberapa hari rawat inap, kondisi ku belum juga stabil. Aku mulai khawatir dengan kandungan ku.
Ini adalah malam ketiga aku tidur di rumah sakit. Seperti biasa, aku hanya tidur sendiri. Suami dan anak ku tidur di luar, di karenakan aturan rumah sakit yang tidak memperbolehkan anak di bawah umur dua belas tahun untuk masuk keruangan ku.

Di malam ketiga inilah aku mulai bermimpi.
Seolah berada di lingkungan sekitar rumah ku sendiri. Ku lihat ada dua orang yang sedang bercakap cakap. Satu laki laki dan satunya lagi perempuan.

" Saya mohon mas, pinjemin saya sebentar saja" pinta seorang perempuan pada laki laki tersebut.
" Untuk apa Bu?kalian kan non muslim.kalau ada yang meninggal tidak menggunakan nya" jawab laki laki itu.

" Saya hanya pinjam sebentar , Nanti saya kembalikan lagi"
Terus saya perhatikan percakapan mereka berdua. Usut punya usut perempuan tersebut sedang ingin meminjam keranda orang meninggal. Ia pun terus memohon, sampai akhirnya laki laki tersebut terpaksa meminjamkannya.

Akupun terbangun. Perasaan ku mulai tidak enak. Seperti ada sesuatu. Tiba tiba prasangka tentang santet pun menggeliat di kepala ku.

Apa mungkin aku kena santet? Lalu kenapa mimpi itu berada di sekitar rumahku? Siapa perempuan non muslim itu? Apa yang " ngerjain" aku adalah orang sekitar rumah ku sendiri? Aku mulai bertanya tanya.
Aku sendiri memang perantau yang tinggal di daerah yang mayoritas non muslim. Tapi sejauh ini hubungan kami baik baik saja. Layaknya orang hidup bertetangga.
Ku coba menghilangkan prasangka itu. Sebab kenyataannya aku memang kena penyakit medis, yakni tipes.
Tapi tetap saja aku merasa ada sesuatu. Akhirnya ku ceritakan mimpi itu pada suami.


Hari ini aku sudah di perbolehkan pulang. Namun sekali lagi aku di pesan dokter untuk sementara waktu agar menjaga makanan. Tidak boleh makan yang terksturnya kasar , makanan pedas juga asam.
Beberapa hari di rumah entah kenapa badan ku kembali demam tinggi. Aku kembali lemas.
Ku ajak suami untuk cek darah lagi. Kali ini aku benar-benar takut kena DBD.


Hasil tes darah keluar. Aku di nyatakan negatif DBD juga malaria. Tipes pun sudah negatif.
" Syukur lah Bu, hasilnya semua normal. Semua baik baik saja" ucap dokter padaku.
Deg,.... bagaimana mungkin semua hasilnya baik baik saja, sedang yang aku rasakan tidak sedang baik baik saja. Aku terus berpikir apa yang terjadi dengan diriku?

Kembali kerumah aku segera minum obat dari dokter. Tapi demam tak juga turun. Kali ini rasanya bukan seperti demam yang kemarin. Lebih tepatnya aku merasa panas, seperti di bakar. Sangat panas. Aku bahkan sudah tak sanggup memakai baju sehelai pun sangking panasnya.

" Aku di bakar mas " ucap ku pada suami.
" Di bakar gimana sih dek?"
" Rasanya panas mas, seperti di bakar".
Suamiku menyentuh tangan ku kemudian kaget dan melepasnya.
" Panas sekali dek"

" Iya, ini bukan seperti panas yang kemarin kemarin. Ini aku di bakar" aku hanya meraung-raung di tengah tempat tidur. Setelah agak sedikit tenang suami izin untuk berangkat kerja. Bagaimana pun kami tetap butuh makan,dan sewa tempat juga harus di bayar tepat waktu. Ku suruh suami mengajak si kecil, sebab kondisi ku yang lemah dan sakit sakitan tidak memungkinkan untuk ia tinggal di rumah. Siapa yang akan merawatnya, bagaimana nanti kalau dia lapar? Sedang aku hanya bisa terkulai lemas di tempat tidur.

Menjelang magrib badanku kembali panas.
Beberapa kali aku mendengar ada suara yang melempari pintu belakang dengan batu kecil.

" Teng...teng....teng...."

Aku cek, ku buka pintu nya.tapi tak ku temukan batu kecil di sekitar pintu. Pintu belakang memang terbuat dari seng. Jadi akan terdengar nyaring bila memang terkena lemparan batu. Kejadian serupa berulang di hari berikutnya. Lagi lagi tak ku temukan benda apapun di sekitar pintu. Hanya satu lembar daun jati milik tetangga sebelah. Kalau cuma daun suaranya tak mungkin se nyaring itu.


Setiap hari aku hanya meraung kepanasan. Ku ceritakan hal ini pada suami juga teman teman. Mereka malah menganggap ini wajar. Bawa'an bayi katanya. Tapi aku terus meyakinkan semua orang kalau ini bukan bawa'an bayi. Sebelumnya aku sudah pernah hamil. Aku paham rasanya mana yang bawa'an bayi dan mana yang bukan. Makin hari tak hanya di bakar, kepalaku pun menjadi berat. Siang malam aku tidak bisa tidur. Sekali aku tidur, maka seolah ada pohon besar yang menimpaku. Ku putuskan cerita sama kakak ipar ku yang kebetulan ia juga merantau satu kota dengan ku. Ia menyuruh ku datang ke tempat seseorang. Aku mengikutinya.

Pagi itu aku dan suami langsung bergegas kerumah orang yang di maksud. Sampai depan rumah kami di persilahkan masuk. Beliau bertanya tentang keluhan ku. Aku pun menceritakannya. Beliau memberi selembar kertas dan menyuruh ku menulis nama ku dan nama orang tuaku. Setelah itu beliau masuk ke kamar membawa kertas tersebut. Sekitar sepuluh menit kemudian beliau keluar. Membawa botol besar yang berisi air putih, sedikit garam ,dan sedikit gula.

" Mbak, ini nanti garamnya letakkan di sudut sudut rumah. Air putih nya di minum dan di campur sedikit gula". Ucap nya..
Ku beranikan diri untuk bertanya tentang apa yang terjadi padaku selama ini. Beliau hanya menjelaskan agar aku tawakal dan mengembalikan pada Allah. Ujian apapun,sakit apapun entah medis entah non medis pada dasarnya semua atas izin Allah.

Aku dan suami pamit pulang. Sampai rumah segera ku taruh garam itu di sudut sudut rumah.ku minum air putih dan ku campur sedikit gula seperti apa yang beliau pesan.

Satu hari dua hari semua berangsur membaik. Meski rasa panas itu tidak sekaligus pergi tapi setidaknya aku sudah bisa memaki baju pendek dari yang awalnya tak memakai sehelai benang pun sangking panasnya. Benar saja, makin hari rasa panas itu makin menghilang. Meskipun badan ku masih sangat terasa berat dan lemas.

Jarum sudah menunjukkan pukul dua malam. Aku masih belum bisa tidur. Lebih tepatnya tidak bisa tidur . Sebenarnya mata ku sudah sangat ngantuk tapi semenit saja aku kesirep maka aku akan segera bangun dengan kepala yang sangat berat . seperti di timpa pohon besar. Zdikir tak pernah lepas dari mulutku .

Kulihat anak dan suami ku terlelap. Sungguh aku sudah lama tak merasakan nikmatnya tidur seperti mereka. Ada rasa kasihan dengan kedua belahan jiwaku itu. Mereka pasti lelah merawat ku sendirian. Kembali ku tengok jam di dinding. Sudah jam setengah tiga, aku memutuskan kan untuk sholat tahajud.


Ku hamparkan sajadah dan ku baca niat. Aku sholat dengan posisi duduk. Pada raka'at pertama semua berjalan baik. Menuju raka'at kedua kepala terasa berat. Di sujud terakhir aku benar benar sudah tidak kuat namun terus aku paksa menyelesaikan sholat dengan sempurna. Saat hendak salam kepala semakin berat, aku hanya bisa menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sedikit saja , sebab rasanya tak hanya berat tapi juga sangat sakit . Masih kupaksa untuk berdzikir. Baru saja ingin beristighfar, tiba tiba kepala seperti ada yang nusuk.

" As...As ......" Aku pun tak sanggup lagi melanjutkan kalimat istighfar.....karena sudah tak mampu menahan rasa sakit. Aku berteriak dan menangis.......

Kisah nyata
Part 2

Aku berteriak dan menangis. Suamiku pun kaget dan melompat dari tempat tidur. Ia berlari menghampiri ku dengan panik. Tangannya hendak menyentuh kepala ku namun seketika ku tangkis.

"Lawan dek ... Ayo kamu harus lawan" ucapnya dengan nada serius. Sepertinya kali ini dia benar benar sudah percaya dengan apa yang ku ceritakan, yakni tentang hal hal ganjil yang selama ini menimpa ku.

Aku masih menangis kesakitan. Kulihat di sebelah sajadah ada Al-Qur'an yang memang sudah ku siapkan tadi sebelum sholat. Ku paksa sebisa mungkin untuk membacanya. Setidaknya ini yang bisa ku lakukan untuk membuat keadaan sedikit tenang. Ya, walau beberapa ayat aku berhasil membacanya.

" Kamu tidur saja ya, dek. Mas papah naik ke kasur "
"Nggak , aku nggak bisa tidur mas. Aku takut."
Aku terus menolak ajakan suami agar tidur dan istirahat.
" Sebenarnya kamu tuh nggak bisa tidur apa takut untuk tidur, dek ?"

"Takut, mas. Aku takut buat tidur. Setiap kali tidur sebentar saja rasanya kepalaku menjadi berat dan sangat pusing. Seperti tertimpa pohon. Aku nggak mau tidur, mas saja yang kembali tidur."
Aku tak lagi memperhatikan apa yang sedang dilakukan suami. Tapi yang pasti kejadian tadi membuat dia sangat terkejut.

Ku tenang kan diri sebisa mungkin. Sampai akhirnya Lamat Lamat ku dengar suara adzan subuh. Aku masih duduk di atas sajadah.

-----------
Kejadian tadi malam sangat menguras emosi ku. Mata ku berat namun tetap tak berani tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Setelah semua pekerjaan di lakukan oleh suami, dia pun izin untuk berangkat kerja.


Ku ambil handphone dan mengirim pesan ke teman . Mbak Evi , adalah teman ngaji satu satunya yang mengerti keadaan ku. Ku minta dia untuk memberitahu ustadzahnya Dhita tentang kondisi ku. Ku minta ustadzah dan murid murid mengaji mengirim doa untuk ku. Mbak Evi juga memberiku nomor seseorang yang pernah membantunya saat dulu ia mengalami hal serupa dengan ku.

Segera ku hubungi orang tersebut. Namanya Hamid atau biasa di panggil paman. Paman sendiri asli warga sini. Beliau seorang muslim.
Malamnya pun paman datang kerumah untuk mengobati ku.
" Paman, ini saya cuma di goda bangsa halus atau di bikin?" Tanyaku penasaran.
" Di bikin mbak, apanya yang sakit?"
" Kepala " Jawab ku.
" Oh,ya... Itu paku".
Paman pun mulai membaca doa.

" Mbak, kasih tahu bagian kepala mana yang sakit ?"
Aku pun memberi tahu bagian mana saja yang terasa sakit. Setiap satu bagian yang ku tunjuk maka paman akan mencabut satu rambut.
Ada beberapa bagian, dan ada beberapa rambut yang ia cabut.

Setelah itu kepala ku sedikit lebih baik. Meski tak seketika hilang semua rasa sakit nya. Tapi itu tidak mengapa, seperti kata orang tua
" Penyakit Kuwi warase teko setitik"
( Penyakit itu sembuh nya sedikit demi sedikit )

-------------
Malam ini mataku terasa sangat berat. Sudah ku tahan agar tidak tertidur, tapi tetap saja aku tertidur. Aku kembali bermimpi.


Seolah berada di sebuah pasar. Tapi pasar yang sangat aneh. Tidak seperti pasar lainnya yang menjual sayuran, ikan atau sembako. Di sini yang mereka jual adalah penyakit. Ya, berbagai macam jenis penyakit sihir, santet, teluh ada disini.

Kenapa ada pasar yang menjual hal hal seperti ini? Batin ku.

Ku perhatikan sekeliling ku, hingga akhirnya pandangan ku berhenti pada seorang perempuan yang sedang duduk berjualan "penyakit" . Aku terkejut, kulihat ada jenis "penyakit" yang selama ini menyerangku di taruh di dalam ember yang berada di depan perempuan tadi.

" Ituuu, itu kan penyakit yang selama ini ku rasakan" gumam ku.
Disitu terlihat semacam teluh paku , panas karena di bakar juga jenis ilmu sihir lainnya.
" Aneh, jualan kok jualan penyakit". Kataku pada perempuan tadi dengan sedikit menunjukkan keberanian padanya. Ia hanya tersenyum .
" Ayo ikut saya " ajaknya.
" Nggak ! Aku nggak mau !" Aku menjawab dengan tegas. Akupun terbangun.
-------------
" Dek, kalau kamu mimpi di ajak orang , tolong jangan mau ya.." pesan suami saat aku selesai bercerita tentang mimpi dan ajakan perempuan di mimpi itu.

" Iya, mas.., ini kepalaku masih agak berat, nanti malam panggil paman lagi nggeh ..." Pintaku pada suami. Ia pun menyetujui.
Malamnya paman pun datang.
" Paman, tiap berada di tempat kerja ..kenapa jari jari tanganku terasa sakit. Serasa di tusuk jarum?" Tanya suamiku.
Aku kaget, ada apalagi ini? Batinku.

Paman kemudian mengecek badan ku.
" Di urut ya mbak, bagian belakang saja".
Akupun mengiyakan.
Setelah beberapa saat di urut, paman menunjukkan sesuatu padaku.
" Dapat rambut mbak". Aku terkejut. Beliau kembali melanjutkan untuk mengurut.
" Dapat lagi mbak" kembali paman menemukan rambut.
Selesai mengurut ku paman lanjut mengurut suami. Kali ini paman juga mendapatkan rambut dan pasir yang keluar dari badan suamiku.
Bersambung....